STRATEGI  MENANGKAL HOAKS

 

Hari                 : Rabu, 10 November 2021

Narasumber     : Heni Mulyati, M. Pd

Moderator       : Muliadi

Tema               : Strategi Mengkal Hoaks


Pertemuan ke 5 Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital

Senin, 10 November 2021, pukul 16.00 Wib pak Muliadi memulai membuka acara dengan menyampaikan beberapa hal tentang motivasi sebagai guru motivator digital serta rangkian acara.

Selayang pandang narasumber pada sore hari ini

Data Pribadi Tempat, Tanggal Lahir Jenis Kelamin Status Perkawinan : Cilacap, 11 Januari 1982 : Perempuan : Sudah menikah Pendidikan 1988 – 1994 1994 – 1997 1997 – 2000 2000 – 2006 2016 – 2020 : SDN Pekayon 03 Pagi, Jakarta : SMPN 184, Jakarta : SMAN 39, Jakarta : S1 Bimbingan dan Konseling, UNJ IPK: 3.83 : S2 Bimbingan dan Konseling, UNJ IPK: 3.71 Pengalaman Kerja 2004 – 2005 Koordinator Program Kotex School to School CMM PKBI DKI Jakarta 2006 – 2008 Koordinator Program Konseling dan Psikososial di Lapas Anak Pria dan Lapas Anak Wanita Tangerang 2008 – 2009 Petugas Lapangan Program Pencegahan HIV dan AIDS di BP3IP dan Proyek Konstruksi 2009 – 2010 Konsultan Penulisan Pelaporan di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional 2010 – 2011 Asisten Koordinator Pelaporan, Bidang Pengembangan Program, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional 2011 – 2013 Guru BK di SD Islam Al Azhar 27, Cibinong 2013 – 2014 Guru BK di SMP Islam Al Azhar 28, Cibinong 2014 – 2015 Kepala Divisi Humas, Litbang, Publikasi PKBI DKI Jakarta 2014 – 2016 Manajer Program Inklusi Sosial di LPKA Kelas II Jakarta 2016 – 2020 Community Organizer Program Inklusi Sosial di LPKA Kelas II Jakarta 2020 – sekarang Tim Pengembangan Kurikulum Literasi Digital (Program Tular Nalar), Mafindo – Maarif Institute – Love Frankie didukung Google.org 2021 - sekarang Koordinator Pengembangan Kurikulum Literasi Media, Mafindo bekerja sama dengan Internews, didukung USAID. 2 | C V H e n i M u l y a t i Pengalaman Organisasi 2000 – 2002 Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan BK, Divisi Bakat Minat 2002 – 2003 Koordinator Humas Kelompok Bimbingan Konseling Remaja (KBKR) 2002 – 2004 Relawan Komunitas Sahabat Museum 2004 – 2007 Anggota Indonesian Youth Partership (IYP), advokasi remaja 2000 – sekarang Relawan Centra Mitra Muda (CMM) PKBI DKI Jakarta 2016 – sekarang Relawan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Jakarta, Wakil Ketua Komite Edukasi, bergerak di isu literasi digital dan edukasi hoaks 2019 – sekarang Kepala Bidang Pengembangan Kurikulum Siberkre

Materi yang disampaikan oleh narasumber antalaian

1.      Strategi Menangkal Hoaks






1.      Perkembangan Era Digital

Ada tiga hal yang dibahas pada sesi kali ini.

Sesi 1 membahas tentang perkembangan era digital dan banjir informasi.

Sesi 2 mengenai hoaks, motif, jenis, ciri, dan dampaknya.

Sesi 3 membahas tentang tips periksa fakta secara singkat.

 

Mari kita nostalgia ke era internet belum ditemukan. Media informasi saat itu sangat terbatas. Ada TV, radio, dan koran cetak.

Saya pernah mengalami juga bagaimana antrinya telepon di wartel atau telepon gunakan telepon umum yang koin. Dulu berkirim surat lewat pak pos dan menunggu berhari-hari balasannya.



semua berubah. Siapa pun bisa menjadi pembuat, penyebar, dan pengguna informasi. Dulu kalau nonton acara, setel TV. Saya kecil di Cilacap, belum masuk listrik. Kalau mau nonton TV harus pakai AKI. Itu pun menumpang di tetangga.

Sekarang, semua saluran TV apa pun ada di genggaman. Bahkan banyak juga sosok-sosok yang menjadi milyarder karena mempunya channel Youtube sendiri.

 

 Selain kemudahan yang diberikan oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, ada sisi lain yang perlu jadi perhatian bersama, yaitu peredaran hoaks di masyarakat.

Mafindo sendiri melakukan pemeriksaan fakta berdasarkan laporan yang masuk. Terdapat 2.298 hoaks selama tahun 2020.



Dilihat dari temanya, politik dan kesehatan menduduki peringkat dua terbesar dibanding tema-tema lainnya. (sumber: Litbang Mafindo).

Dilihat dari saluran peredarannya, FB, WA, dan Twitter menjadi tempat dimana hoaks banyak beredar.

Itulah mengapa penting bagi kita untuk dapat membedakan mana hoaks atau bukan dengan memiliki kemampuan periksa fakta yang cukup.



Perubahan teknologi juga berdampak pada masifnya informasi yang diterima. Banyak informasi yang beredar di grup percakapan, baik informasi yang serius ataupun tidak serius. Belum lagi banyaknya grup percakapan yang kita ikuti.

Bisa jadi bagi beberapa orang situasi ini tidak nyaman. Ketika banyak informasi yang hadir pada satu waktu.

Ada beberapa situasi yang perlu kita sadari terkait dengan banjirnya informasi ini. Yaitu:

1. Era Post Truth

2. Matinya kepakaran

3. Filter bubble dan echo chamber

Era post truth ditandai dengan ketika suatu fakta diberikan, seseorang cenderung tidak menerimanya. Hal ini lebih dikarenakan emosi yang dominan dan keyakinan pribadi.

Misal, kita sudah percaya dengan si A. Ketika si B memberitahu bahwa ada fakta lain tentang A, kita akan menyangkalnya. Kita sudah yakin si A pasti benar dengan apa pun yang disampaikan.

Matinya kepakaran situasi yang perlu kita waspadai. Banyak orang, terutama masa pandemi, memberikan gagasan namun bukan ahli di bidangnya.

Misal latar belakang A namun memberikan pandangan tentang bidang lainnya. Atau bukan ahli kesehatan, namun merasa paling tahu bidang kesehatan.



Ada hal lain yang perlu kita sadari, kita semua berada di gelembung-gelembung kelompok informasi. Misal, saya akan memblokir orang yang tidak sesuai dengan ide dan pemikiran saya. Dampaknya lingkaran kita terbatas pada orang-orang yang satu ide saja.

Ada istilah lainnya yaitu filter bubble dan echo chamber. Penjelasan ada pada slide.




2.      Hoaks, Motif, Kenis, Ciri, dan Dampaknya



Kita akan masuk pada bagian kedua, mengenai apa itu hoaks, motif, jenis, ciri, dan dampaknya.



Hoaks sendiri dari asalnya sudah digunakan abad ke-17. Asal kata ‘hocus’. Hocus pocus, mirip dengan sim salabim di sulap.

 



 

Dari sisi pengertiannya, hoaks adalah infomasi yang sesungguhnya tidak benar, tapi dibuat seolah-olah benar.



Mengapa masih ada yang percaya hoaks? Banyak alasannya. Ini beberapa di antaranya:

1. Kemampuan literasi digital dan berpikir kritis yang belum merata

2. Polarisasi masyarakat

3. Belum cakap memilah informasi dan minimnya kemampuan periksa fakta


Ada banyak alasan seseorang menyebarkan hoaks. Salah satunya motif ekonomi. Ada orang-orang yang membuat situs tertentu yang isinya provokatif.

Ketika orang mengunjungi situs tersebut, maka akan mendapatkan keuntungan ekonomi (click bait). Pembuat dapat uang, kita dapat perpecahan, debat, dan sebagainya.



Ada banyak motif lain yang perlu kita waspada bersama.

Ada tujuh misinformasi dan disinformasi yang dapat disimak pada tautan di bawah ini.

Misinformasi: informasi salah, penyebarnya tidak tahu kalau itu salah. Umumnya tidak disengaja.

Disinformasi ada unsur kesengajaan.

Simak tautan di bawah ini, sumber dari Youtube Mafindo:

https://www.youtube.com/watch?v=ojCpsFhmSS0



Berikut contoh hoaks yang mungkin bapak dan ibu pernah dapat. Ada yang namanya satire atau parodi, konten palsu, koneksi yang salah.




Contoh berikutnya konten yang menyesatkan, konten yang salah, konten tiruan, dan konten yang dimanipulasi.



Apa saja ciri-ciri informasi hoaks? Sumber informasi tidak jelas, biasanya bangkitkan emosi, kelihatan ilmiah namun salah, isinya sembunyikan fakta, dan minta diviralkan.

Mafindo rekomendasikan untuk sumber informasi gunakan rujukan media kredibel atau anggota Dewan Pers. Atau sumber dari lembaga resmi terkait.


Apa dampaknya? Akan timbul perpecahan dan saling curiga antara kita. Selain itu muncul kebingungan bedakan mana yang hoaks dan bukan.

Dapat pula membuat meninggal seorang karena terlalu percaya dengan informasi yang didapat. Karena percaya hoaks akhirnya terlambat penanganan medis.

 



Sekarang kita masuk ke bagian terakhir, bagaimana melakukan periksa fakta singkat.



 

Silakan bapak ibu menonton video ini yah. Ini produksi Tular Nalar dari situs www.tularnalar.id

Video durasi lima menit dapat ditonton pada tautan di bawah ini.

https://www.youtube.com/watch?v=rX5z3PBmwtM



 

 Setelah kita menonton tayangan tadi, saya akan berikan beberapa cara cepat untuk periksa fakta. Bisa dilihat detail pada paparan.



Jika menerima informasi melalui WA, ini caranya untuk cek hoaks.



Apabila bapak ibu ingin belajar lebih lanjut mengenai literasi digital, bisa ke www.literasidigital.id atau www.tularnalar.id

Bisa juga ke youtubenya Mafindo agar tahu hoaks terkini apa saja.



Ada tiga hal yang perlu dicek fakta: narasi, foto, dan video. Kalau bapak ibu mau ikutan sesi pelatihan ini, bisa ke sini yah.

Kelas Kebal Hoaks (KKH) Mafindo bekerja sama dengan Kominfo dan Siberkeasi. Gratis dan mendapat sertifikat. Pelatihan ini lebih detail teknis melakukan periksa fakta. Banyak praktik dan latihan.



Saya akhiri dengan penutup.Bahwa hendaklah bijak gunakan media digital. Apa yang kita unggah akan tinggalkan jejak.

Periksa faktanya dulu

1.      Bagaimana cara menangkal hoaks ?

(Cara menangkal hoaks, pertama kita perlu skeptis atau curiga dulu atas informasi yang diterima. Tidak langsung percaya meski hal tersebut dari orang yang kita kenal. Periksa faktanya. Cara periksanya bagaimana? Ada detailnya di paparan. )

2.      Apa saja dampak positif dan negatif dari hoaks ?

Bicara dampak, sejauh ini saya belum menemukan yah dampak positif hoaks. Kalaupun ada yang mendapat keuntungan materi (uang) misalnya, itu jangka pendek. Bisa berkonsekuensi hukum.

3.      Bagaimana kita menyikapi terhadap berita hoaks ?

Menyikapi informasi hoaks, dengan tidak sebar semakin luas. Menunggu hasil periksa fakta atau klarifikasi dari pihak berwenang. Gak mudah memang menunggu itu. Sebab ada sebagian orang yang inginnya ter-up date atau paling pertam